Mamayuza’s Blog

Our life so far…

August 3, 2009 · Leave a Comment

Daisypath

→ Leave a CommentCategories: Hidup itu indah

Wow…Ternyata Diabetes Tidak Hanya Tipe1 dan 2

June 4, 2009 · Leave a Comment

040609

Yup….itu hal baru yang kudapat pagi ini. Memang, ilmu itu selalu dinamis, seiring dengan kodrat manusia yang selalu belajar tentang kehidupan. Begitu pula ilmu yang selama ini kugeluti, ilmu tentang kesehatan, yang terus melaju dalam kencang dalam hitungan hari bahkan menit.

Memang di Indonesia, perkembangan riset khususnya di bidang biomedik belum sepesat di luar negeri seperti disini (baca: Australia). Hal ini tentunya berkorelasi secara positif dengan besarnya anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan riset mulai dari hulu hingga hilir. Selain itu, sepertinya startegi riset baik di institusi pendidikan maupun di lembaga penelitian di Indonesia masih belum terintegrasi secara maksimal (ini menurutku lho…). Memang sih, kalo tidak salah sudah disusun semacam dokumen yang sifatnya mengkoordinasikan arah dan kebijakan riset secara nasional, tetapi implementasinya mungkin belum sepenuhnya berhasil. Selain menambah stimulus dana (mungkin agak sulit dilaksanakan mengingat kondisi keuangan negara kita), mungkin ada baiknya para penyalur dana penelitian seperti DIKTI, RISTEK, dan yang lainnya lebih berkoordinasi untuk memperjelas peta riset nasional yang tentunya berorintasi pada dihasilkannya hak kekayaan intelektual yang bermutu. Bukankah lebih baik bergotong royong mengerjakan hal besar daripada masing-masing kita berkutat dengan diri sendiri dan menghasilkan sesuatu yang kurang bernilai?

Terkait dengan judul posting ini, baru saja aku mengikuti semacam pertemuan rutin tiap minggu yang diadakan oleh grup risetku, we call it as lab chat. Topik kali ini adalah aspek imulogis dari diabetes. Kebetulan, ada seorang doctor dari grup ini yang baru pulang menhadiri seminar international di bidang tersebut. Walhasil, dia membawa pulang oleh2 berupa cerita mengenai hasil riset terbaru terkait diabetes. Dari banyak hal yang kudengar (walaupun hanya sebagian kecil saja yang kumengerti),  ada beberapa poin yang menarik perhatianku. Nah…salah satunya ya informasi bahwa saat ini, pembagian diabetes menjadi dua tipe itu tidak lagi terlalu relevan. Ternyata sekarang telah mulai diketahui bahwa perbedaan aspek imunologis (seperti antigen pencetus kerusakan sel beta pangkreas dan antibody yang dihasilkan oleh tubuh terkait patogenesis  yang terjadi) berkontribusi terhadap dirumuskannya semacam sub tipe dari diabetes. Bahkan di salah satu publikasi, diceritakan bahwa penulisnya memakai istilah diabetes tipe 1,5 untuk kondisi imunopatologis tertentu dari penderita diabetes. Hal lain yang juga menggugah pikiranku bahwa ada penelitian yang menunjukkan hanya 2-3 % dari saudara kandung pederita diabetes tipe 1 yang juga menderita penyakit yang sama. Poin terakhir ini mengundang banyak pertanyaan dari teman2ku karena tentunya kontradiktif dengan pengetahuan selama ini bahwa factor genetic berkontribusi terhadap kejadian penyakit diabetes.

Begitulah…pagi yang mengairahkan. Aku selalu merasa bersemangat jika menemui hal2 baru yang lahir dari rahim bernama ilmu. Meskipun akan selalu membawaku ke suatu kesadaran bahwa aku hanya mengetahui sedikit saja dari semua itu.  Tho…hidup itu adalah suatu pembelajaran.

→ Leave a CommentCategories: Berbagi untuk semua

Selayang Pikir di Antara Rintik Hujan

June 3, 2009 · 2 Comments

030509

Pagi yang kelabu di Canberra. Aku melangkah ke kantor dengan semangat tertahan diiringi rintik hujan yang terkesan malu-malu. Cuaca seperti ini memang sangat menggoda dirku untuk bermanja2 dengan selimut baru yang belum lama kubeli di atas tempat tidur sempit itu.  Butuh energi aktivasi yang cukup besar untuk kemudian membuatku mengangkat tubuh dan mulai bersiap pagi ini. Jalanan becek yang kulalui pagi ini mengingatkan ku pada kampung halamanku tercinta.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar dibesarkan di suatu kampung. Ku habiskan masa kecilku di sebuah ruko yang berada tepat di tengah keramaian pasar .. Di bagian bawah ruko tersebut, mamaku membuka sebuah salon kecantikan yang Alhamdullilah selalu ramai dengan pelanggan setianya. Kami menempati bagian atas ruko yang berlantai 3 itu. Well…I wasn’t really enjoy to live in such a place like that. I didn’t think I could call that place as a home.

Setelah menikah, baru akhirnya aku mengalami bagaimana rasanya hidup di suatu kampung. Suamiku berasal dari suatu desa di kawasan Jawa Tengah bagian Barat, dimana hampir semua orang mengenal semua orang dan sebagain besar diantaranya mempunyai pertalian saudara. Perlu beberapa waktu bagiku untuk beradaptasi, berpaling dari kehidupan semi asosial ke situasi yang penuh keeluargaan. Awalnya terasa gerah ketika tuntutan untuk menghadiri acara arisan dan undangan pernikahan  berstatus kewajiban disela rutinitas pekerjaan yang memuncak. Namun, waktu membuatku belajar bahwa kebersamaan itu indah dan sering kali meringankan. Seperti saat ini, saat aku harus rela melepaskan sebagian atribut keibuanku dengan menitipkan anak semata wayangku ke pangkuan suami dan keluarga besarnya, aku bisa cukup tenang karena aku yakin anakku berlimpah kasih sayang disana.

Bicara soal keluarga, saat ini hembusan angin kencang sedang menerpa salah satu kerabat yang kebetulan seorang pejabat publik yang sedang diguncang kasus korupsi. Meskipun, keluarga inti kami tidak secara langsung  terkait dengan kasus tersebut, tapi sebagai bagian dari keluarga (dan juga tetangga), keresahan ini secara iritatif muncul dibenakku. Terlepas dari kenyataan bahwa politik itu memang tidak selalu bersahabat dan terlepas dari benar atau tidak tindakan tak terpuji itu Ia lakukan, hati kecilku berharap semua akan baik2 saja.  Memang….sepertinya sangat naïf  mendoakan seorang tersangka korupsi, tetapi jika orang itu adalah bagian dari keluarga yang telah menghangatkan hari-harimu, apakah kenaifan itu bisa menjadi suatu pemakluman?

Begitulah…..dari secangkir kopi sebagai pembuka hari hingga segelas sup hangat di sela puncak aktivitas, tetap saja hati dan jiwa ini terasa lapar, mengharapkan semua yang terbaik yang akan terjadi dan berusaha berbaik sangka kepadaNya. Selalu ada udang di balik batu dan selalu ada hikmah dibalik semua kejadian.

→ 2 CommentsCategories: Pikirku pun melayang

Satu Bulan Sudah……. (bagian II)

June 2, 2009 · 2 Comments

P5302814Bagian terpenting dalam refleksi bulan pertama ku di tanah kepunyaan bangsa Aborigin ini tentunya adalah masa-masa inisiasi untuk program S2 yang kuambil.  Sebenarnya tidak ada paket khusus orientasi yang harus kujalani seperti ketika mengawali kuliah S1 di Jogjakarta dulu. Aku mengambil program master riset di John Curtin School of Medical Research (JCSMR).  Sistem pendidikan di Australia memang sedikit berbeda dengan di Indonesia. Disini, sebagai mahasiswa riset, aku tidak diwajibkan untuk mengikuti kuliah. Secara garis besar, aku hanya diwajibkan menjalankan riset dengan topik tertentu, tentunya dengan berpedoman pada kerangka waktu yang telah diatur sebelumnya. Praktis, hari-hariku disini kujalani dengan pergi ke kantor (aku mendapatkan meja dan semua perlengkapan seperti komputer di ruang yang sama dengan supervisorku, bersebelahan dengan laboratorium tempatku bekerja), mengikut beberapa training yang kuanggap perlu dan kemudian pulang ke asrama.  Tidak ada deadline tugas ataupun ujian yang menghantui pikiranku.

Aktivitas yang Tak Tercipta
Tapi….tunggu dulu, bukan berarti dengan pengaturan seperti itu para mahasiswa riset disini (M.Phil or Phd) mempunyai beban akademik yang lebih ringan dari mereka yang mengambil Master by Coursework. Mahasiswa riset dituntut untuk secara mandiri mengatur jadwal kegiaatannya sendiri termasuk menggali ilmu yang diperlukan secara independent. Oleh sebab itu, managemen waktu merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan akademik.  Bagaimana dengan aku? Hmm….sepertinya aku kurang kreatif dalam mengatur kegiatan2 pertamaku disini. Minggu pertama kuhabiskan untuk betemu dengan pihak Ausaid sebagai sponsor beasiswaku, lalu berdiskusi dengan supervisorku tentang banyak hal terkait program yang kuambil termasuk mnentukan topik risetku. Minggu selanjutnya kuhabiskan dengan berusaha mengenali lingkungan kerjaku yang baru termasuk berkenalan dengan orang2 baru dan juga tak lupa dengan alat2 dan prosedur riset yang baru pula. Minggu ketiga cukup membosankan. Ketika aku sudah mulai beradaptasi dan orang2 sudah mulai menarik perhatiannya dari diriku dan kembali ke rutinitas mereka yang seabreg, aku seringkali kebingungan mencari ide apa yang dapat kukerjakan. Meskipun aku mengikuti satu-dua training dan beberapa seminar, tetap saja terasa masih banyak waktu yang terbuang percuma. Hey…aku seorang ibu muda yang terbiasa bekerja dan mengurus keluarga,. Jadi…disini  dengan hanya mengurus diri sendiri, aku merasa aktivitasku jauh berkurang. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba menulis proposal riset yang sebenernya belum diminta oleh supervisorku. Setelah 3 hari menyibukkan diri dengan membaca dan menulis, akhirnya draft proposal itu kuserahkan ke beliau dan hingga kini belum diliriknya. Seminggu terakhir, meskipun seringkali masih menghabiskan waktu untuk bengong dan internatan (hihi…FB n YM terutama), aku mulai merasa tertantang karena mulai bekerja di laboratorium dan mempelajari beberapa teknik riset yang akan kugunakan dalam penelitianku kelak. You know, I just think that wearing a lab coat is very cool and working in lab is one of my biggest passions.

What a wonderfull place
Bicara tentang lingkungan baru, aku bersyukur dapat berada di salah satu departemen yang ternama di Australia. JCSMR merupakan pusat riset untuk kelompok ilmu biomedik dan banyak mempunyai staff berkualifikasi internasional, bahkan 2 diantaranya pernah memenangkan hadiah nobel. Lebih khusus lagi, grup risetku (Cancer And Vascular Research Group) merupakan salah satu grup yang cukup besar dibawah asuhan supervisorku yang bernama Prof. Chris Parish. Orang-orang dalam grup ini cukup bersahabat dan saling mendukung. Meskipun kami semua mengerjakan topik riset yang berlainan namun tukar menukar informasi selalu dilakukan minimal satu minggu sekali dalam suatu pertemuan yang informal. Aku, sebagai anak bawang dalam dunia penelitian merasa sangat terbantu oleh mereka.

Hal menarik lainnya adalah tentu saja gedung tempatku bekerja ini. Gedung ini baru saja diresmikan oleh PM Australia, Kevin Rudd, seminggu yang lalu. Arsiktektur bangunan ini sangat modern dengan fasilitas yang sangat canggih pula. And you know what, sebagian dana pembangunannya disponsori oleh Jackie Chan (yup…the mandarin actor who concern a lot about cancer).

After all, warna-warni kehidupan disini akan berusaha kunikmati. Menikmati rasa rindu yang membuncah dengan keyakinan bahwa Kami pasti akan betemu lagi di saat yang pastinya lebih indah. Menikmati kerja keras yang menunggu di depan mata dengan harapan buahnya akan berasa manis dan bisa dinikmati oleh orang banyak.  Dan menikmati semua karunia ini sebagai cobaan dari Allah. Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang pandai bersyukur. Amin.

→ 2 CommentsCategories: Hidup itu indah

Satu bulan sudah…..(bagian 1)

June 1, 2009 · 2 Comments

010609

Yup….tak terasa sebulan telah berlalu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di benua ini untuk melanjutkan studi S2 ku. Mengingat kembali kilatan2 peristiwa yang kulewati hampir 30 hari ini membuat perasaanku menjadi campur aduk, ada banyak optimisme beriringan dengan semangat membara untuk mengukir hari depan yang lebih indah, tapi ada pula rasa haru yang tertahan ketika menyadari konsekuensi yang terhampar di depan mata dari keputusan yang telah kuambil ini.

Asa yang Tercipta
Kuawali perjuanganku sebagai seorang laskar pencari ilmu (hehe…mengutip prase gubahan Andre Hirata yang sedang sangat popular) dengan cucuran airmata. Walaupun proses untuk sampai ke titik dimana aku harus benar2 keluar dari zona kenyamananku ini telah memakan waktu yang tidak sedikit (more than one year for my phsycologic preparations), tetap saja terasa sangat berat untuk melangkah. Terlebih ketika harus berpamitan dengan buah hatiku yang saat itu sedang lelap dalam tidurnya. Hanya sebuah ciuman selamat tinggal dan bisikan kata sayang yang bisa kuberikan. Aku tahu, aku tidak sendiri  merasakan hal ini. Ada ratusan atau mungkin ribuan perempuan2 tangguh yang telah rela menjauh sejenak dari buah hati mereka demi meningkatkan kualitas kehidupannya, baik untuk bekerja maupun belajar. Kenyataan ini membuatku lebih tegar dan makin bersyukur. Aku masih diberi kesempatan untuk belajar di negeri yang indah ini tanpa harus mengelurkan uang sedikitpun dan memposisikan diri di lingkungan intelektual yang cukup mendukung.  Terbayang cerita sedih para TKW yang harus bekerja mati2an demi mendapatkan uang untuk menopang hidup keluarganya dan tak jarang masih mengalami siksaan fisik  yang tak berperikemanusiaan. Aku pun patut memuja karunia Allah kepadaku yang telah memberi keluarga yang sangat  mendukung yang dengan bahu membahu membuat agar semua hal, terutama terkait pengasuhan buah hatiku, menjadi lebih menenangkan. Papa-mamaku, Bapak-ibu mertuku dan tentu saja suamiku adalah orang2 yang meringankan langkahku untuk mengejar salah satu mimpi masa kecilku ini.

Pembelajaran Pertama
Perjalanan ke tempat baru, apalagi harus belajar memulai hidup di tempat yang sama sekali belum pernah kudatangi, tentunya merupakan tantangan tersendiri. Walaupun kami, sebagai penerima beasiswa ADS, telah dibekali dengan kursus mengenai bahasa dan pemahaman budaya  Australia sebelum berangkat, tetap saja praktek pada kenyataannya seringkali berbeda dengan teori. Aku cukup kesulitan berkomunikasi dengan para native speakers di sekelilingku. Aksen Australian yang kental memang lebih sulit dipahami. Terlebih lagi aku tinggal di semacam asrama kampus yang berisikan mahasiwa dari berbagai Negara. Kadang kala, aksen mereka yang bukan native English speakers pun tak kalah sulit dimengerti. Walhasil, miscommunication mewarnai hari2 pertamaku disini, bahkan hingga kini.

Hangatnya Kebersamaan
Tak selalu warna hari-hariku di negerinya Nicole Kidman ini kelabu. Banyaknya mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di ANU (Australian National University), tempatku sekarang menunaikan amanah untuk belajar, membuat keceriaan tersendiri.. Di Toad Hall (akomodasi kampus yang sekarang kudiami) memiliki populasi mahasiwa Indonesia yang cukup menakjubkan, hingga pernah dijuluki sebagai “kampung melayu”. Seringkali, setelah lelah berkutat dengan berbagai kuliah, tugas dan juga riset yang melehkan, memasak bersama di sore hari (masakan Indonesia tentunya), menjadi acara yang menyenangkan untuk sekedar melepaskan penat. Dan, untuk anak baru sepertiku, para senior yang lebih dulu menceburkan diri dalam kehidupan sebagai mahasiswa internasional disini sangatlah berjasa, terutama dengan menunjukan tata cara beradaptasi dan bertahan hidup seperti dimana harus berbelanja kebutuhan sehari-hari, mana makanan yang halal, dan lain sebagainya. Up date berita2 yang lagi hangat terjadi di negeri tercinta seringkali menjadi perbincangan yang hangat di milis maupun di meja makan.

Bicara mengenai kehangatan, sepertinya aku datang di musim yang sama sekali tidak hangat. Mei adalah masa-masa dimana pepohonan mulai menguning dan lebih senang menggugurkan dedaunnya. Secara visual, masa-masa ini sangatlah indah untuk ditangkap oleh mata. Namun….tidaklah begitu indah untuk dirasakan. Canberra termasuk wilayah di Australia yang  cuacanya relatif kurang bersahabat, terutama menjelang musim dingin. Walaupun belum pernah mengalami suhu minus, dibawah 5 derajat celcius pun sudah cukup membuatku menggigil kedinginan. Hikmah selanjutnya adalah aku menjadi bisa menyalurkan hobi berbelanjaku karena harus membeli pakaian yang cocok untuk musim dingin seperti ini, horeeee……… :) .

→ 2 CommentsCategories: Hidup itu indah

The Launching

January 30, 2009 · Leave a Comment

Yup, it’s my new blog. This time, I’m using wordpress because found it’s easier to use, especially for me who known as a ‘gaptek’ person. Hmm…about the name of the blog, please don’t say that it’s a kind of plagiarism although it’s quite similar with one of my friend’s blog (isn’t it, Mr. Dayat?). Trust me; I have tried many other names particularly using my name. However,   “Santi” and its derivates such as “Santi07” are already used. Yup, my name is a simple and very common therefore maybe there are more than a hundred people who have a same name with me.  Then, the only thing that I could think of is to put my beloved son’s name as the name of the blog.

This blog will be my new room to share my little world with all of my friends, colleagues, students and the other people who will find it interesting. To differentiate this blog with my other blog (http://slutcu.blog.friendster.com), I’ve designed this blog to be more social than another one which would be more private. I hope I will have much spare time to keep writing so this blog will be updated regularly.

Finally, please be my guest.

P.S: This blog is dedicated for my lovely husband, who has requested this as a present for our 3rd wedding anniversary.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized